KEHANGATAN DALAM KEBERSAMAAN
Apa itu Saint Mary's Way?
Saint Mary’s Way adalah sebuah proyek kokurikuler yang dilaksanakan oleh para siswa SMP Santa Maria di Bandung. Kami, para siswa, mengikuti berbagai kegiatan yang berkaitan dengan agama, kasih, dan hal-hal baik lainnya yang sangat bermanfaat bagi pengalaman kami sebagai pelajar. Beberapa dari kami pergi ke panti jompo, panti asuhan, koor lingkungan, doa lingkungan, dan pelayanan gereja.Sebagai seorang siswa yang rajin mengikuti kegiatan Doa Lingkungan di sekolah, saya memilih untuk mengikuti Doa Lingkungan. Oh, sebelum itu, mari kenali saya terlebih dahulu jika kalian belum mengenal saya.! Click here!
Sekarang setelah kalian mengenal saya, teman-teman, saya memilih Doa Lingkungan karena proyek ini kebetulan berlangsung pada bulan Kitab Suci Nasional, yang biasa disingkat BKSN. Saya mulai mengikuti Doa Lingkungan pada tanggal 13 September 2025, di Di 12 Jl. Sangkuriang, lingkungan Santo Mikael, paroki Katedral. Di sana, saya bertemu banyak orang dari lingkungan Santo Mikael, ada yang sudah lanjut usia, ada yang anak-anak, dan ada juga yang usianya sedikit lebih tua dari saya.
Saya merasa sangat nyaman berdoa bersama para tetangga. Mereka ramah, baik hati, dan memiliki iman yang kuat. Saat doa lingkungan berlangsung, suasananya terasa sangat hangat, seperti sedang berdoa bersama keluarga besar. Rumah tempat kami berdoa dipenuhi dengan tawa, kesedihan, serta banyak pengetahuan dan wawasan tentang iman. Selama doa lingkungan, kami saling berbicara dan merenungkan diri. Saat itu, kami membahas topik untuk minggu ketiga BKSN.
Kami memiliki rangkaian acara. Pertama, kami menyanyikan lagu pembuka, kemudian berdoa. Setelah itu, kami membaca topik dari Kitab Suci untuk minggu ketiga. Selanjutnya, kami mendalami isi bacaan tersebut sambil merenungkan diri, lalu dilanjutkan dengan doa umat. Terakhir, kami berdoa bersama dan menutupnya dengan lagu penutup.
Setelah selesai berdoa, kami makan bersama. Doa dipimpin oleh petugas seksi rohani. Kami biasanya makan hidangan berat seperti lontong, siomay, nasi, dan juga makanan penutup. Sebelum pulang, kami mengucapkan terima kasih kepada pemilik rumah dan menyapa sesama umat.
Saya sangat senang bisa berdoa bersama dengan komunitas saya, karena selama kegiatan doa saya menemukan banyak hal menarik dan mulai lebih sering berpartisipasi dalam doa lingkungan dengan niat yang baru. Meskipun pada awalnya, ketika saya diberi tugas untuk membuat refleksi, saya merasa malu dan takut, tetapi setelah mencobanya, saya tidak lagi merasa takut. Saya juga merasa bahwa saya telah menjadi anak yang lebih rendah hati, lebih penuh kasih, lebih taat, dan memiliki kesadaran yang lebih besar tentang iman dan karya Tuhan. Jika kita benar-benar memahaminya, ternyata membaca Alkitab dapat membawa berkat, bukan hanya sebagai formalitas saat berdoa bersama.
Sejak mengikuti Saint Mary’s Way, saya menjadi pribadi yang lebih baik dan memiliki iman yang lebih kuat daripada sebelumnya. Saya berharap apa yang saya tulis ini dapat menginspirasi beberapa orang yang membacanya.
Berikut tiga hal yang saya pelajari dari kegiatan doa lingkungan ini:
See (Melihat):
Saya melihat bahwa banyak orang masih peduli dengan cerita-cerita dalam Alkitab, terutama orang-orang yang lebih tua. Hal ini menginspirasi saya untuk menjadi pribadi yang ingin lebih rajin membaca dan mendalami isi Alkitab. Karena sebelumnya, saya agak enggan untuk membuka dan mempelajari Alkitab. Namun sekarang, saya berubah karena telah melihat hal-hal yang menginspirasi saya.
Act (Bertindak):
Saya mulai lebih sering membaca Alkitab, mendalami isinya, dan mengikuti doa lingkungan dengan lebih sungguh-sungguh. Karena sekarang saya menyadari bahwa hal yang perlu kita dalami bukan hanya tentang bagaimana hidup bahagia, tetapi juga kisah dan ajaran dalam Alkitab.
Judge (Menilai):
Saya merasa menjadi lebih rendah hati, lebih setia, dan lebih mampu melakukan kehendak Tuhan.
Dalam konteks kerendahan hati, saya merasa bahwa saya harus lebih rajin berdoa, membaca Alkitab, mempelajari kisah Yesus, dan selalu ikut serta dalam kegiatan lingkungan. Dari kegiatan lingkungan inilah saya merasa dapat mengubah diri saya menjadi lebih baik dan lebih rendah hati.
Dalam konteks kesetiaan, saya menjadi anak yang lebih setia kepada Tuhan dan Bunda Maria. Saya juga menyadari bahwa kesetiaan itu penting bagi kita, karena sebenarnya yang membutuhkan berkat adalah diri kita sendiri.
Kemudian, dalam melakukan kehendak Tuhan, saya kini berusaha melakukan banyak hal yang sesuai dengan kehendak-Nya. Misalnya, ketika saya menemukan uang di sekolah dan uang itu bukan milik saya, saya tidak akan mengambilnya. Saya akan menyerahkan uang tersebut ke ruang guru dan menjelaskan di mana dan kapan saya menemukannya.
Setelah saya mempresentasikan kepada teman-teman dan orang tua mereka, saya menjadi lebih percaya diri dan berani. Saat presentasi, saya belajar bagaimana berbicara dengan baik sambil tetap menarik dan menyenangkan. Saya juga belajar bekerja sama sebelum presentasi, misalnya dengan membagi tugas berbicara.
Saya berharap suatu hari nanti saya bisa bertemu dengan Bima. Saya juga sangat ingin mengikuti doa lingkungan lagi, karena akhir-akhir ini tidak ada doa lingkungan sejak bulan Rosario.
Sebelum presentasi, saya juga sempat gugup, tetapi sekarang saya tidak gugup lagi saat presentasi. Saya juga melihat beberapa kelompok lain sebelum giliran kelompok saya yang melakukan kegiatan yang sangat seru dan menarik, misalnya teman saya yang pergi mengunjungi panti asuhan. Sejujurnya, saya juga ingin pergi ke sana karena saya pernah ke panti asuhan tersebut dan anak-anaknya sangat lucu, dan saya pernah bertemu dengan mereka. Dan yang paling saya sayangi adalah Bima; dulu saya sering mengobrol dengan Bima dan itu sangat menyenangkan.
Dalam konteks kerendahan hati, saya merasa bahwa saya harus lebih rajin berdoa, membaca Alkitab, mempelajari kisah Yesus, dan selalu ikut serta dalam kegiatan lingkungan. Dari kegiatan lingkungan inilah saya merasa dapat mengubah diri saya menjadi lebih baik dan lebih rendah hati.
Dalam konteks kesetiaan, saya menjadi anak yang lebih setia kepada Tuhan dan Bunda Maria. Saya juga menyadari bahwa kesetiaan itu penting bagi kita, karena sebenarnya yang membutuhkan berkat adalah diri kita sendiri.
Kemudian, dalam melakukan kehendak Tuhan, saya kini berusaha melakukan banyak hal yang sesuai dengan kehendak-Nya. Misalnya, ketika saya menemukan uang di sekolah dan uang itu bukan milik saya, saya tidak akan mengambilnya. Saya akan menyerahkan uang tersebut ke ruang guru dan menjelaskan di mana dan kapan saya menemukannya.
Setelah saya mempresentasikan kepada teman-teman dan orang tua mereka, saya menjadi lebih percaya diri dan berani. Saat presentasi, saya belajar bagaimana berbicara dengan baik sambil tetap menarik dan menyenangkan. Saya juga belajar bekerja sama sebelum presentasi, misalnya dengan membagi tugas berbicara.
Saya berharap suatu hari nanti saya bisa bertemu dengan Bima. Saya juga sangat ingin mengikuti doa lingkungan lagi, karena akhir-akhir ini tidak ada doa lingkungan sejak bulan Rosario.
Sebelum presentasi, saya juga sempat gugup, tetapi sekarang saya tidak gugup lagi saat presentasi. Saya juga melihat beberapa kelompok lain sebelum giliran kelompok saya yang melakukan kegiatan yang sangat seru dan menarik, misalnya teman saya yang pergi mengunjungi panti asuhan. Sejujurnya, saya juga ingin pergi ke sana karena saya pernah ke panti asuhan tersebut dan anak-anaknya sangat lucu, dan saya pernah bertemu dengan mereka. Dan yang paling saya sayangi adalah Bima; dulu saya sering mengobrol dengan Bima dan itu sangat menyenangkan.
Mungkin itu saja yang ingin saya sampaikan. Sekian dari saya, terima kasih.


Komentar
Posting Komentar